Puisi: Hore! Usai!

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 5 November 08 by Sitti Rasuna Wibawa

Beuh, mungkin aku satu-satunya yang bikin cerita dan puisi yang tak punya keindahan bahasa. Ahahaha… biarkan. Jenis puisiku ini kunamai puisi kontempo. Ehehehe, kependekannya kontemporer. Kontemporer itu sukasuka kan? Ya ini juga puisi sukasuka plus GJ.

HORE! USAI!

Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek.

Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek.

Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek.

Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek.

Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek. Tek.

Tek. Tek. Tek. Tek. Tek.

Lima detik lagi…

Tek. Tek. Tek. Tek. Tek.

Na na na na…

Na na na na…

Na na na na…

Na na na na… (seperti nada tanda kereta datang di stasiun)

Dia: “Yess!”

Dia: “Hore! Sikasiksikasik!”

Dia: “Alhamdulillah…”

Ahahahah, puisi cem apa itu? Tak apeu lah…

Jalan-Jalan (kaki) Potret & Tanya!

Posted in blog dengan kaitan (tags) , , on 6 September 08 by Sitti Rasuna Wibawa

050908

Tiga puluh menit kemudian, aku masih berjalan di trotoar Jalan Jenderal Sudirman. Niatnya, jalan kaki untuk mencari foto (Aku sedikit ada minat di fotografi). Lima ribu delapan ratus foto di komputerku, tinggal stok foto lama. Sialnya, pada saat di >tiga puluh menit kemudian itu aku berjalan, aku tidak mendapatkan satu pun foto. Padahal, aku membawa dua kamera. Di tiga puluh menit kemudian itu, aku belum juga mengeluarkan kameraku, karena aku lihat-lihat tidak ada yang menarik untuk difoto dan aku juga tidak ada ide dan konsep yang keluar dari benakku.

Akhirnya, sembilan puluh menit kemudian-nya, aku sampai juga di depan Chase Plaza. Sebelumnya aku jalan kaki dari Plaza Semanggi-Plaza Indonesia-Chase Plaza. Di jembatan penyeberangan, aku dapat juga film India! Hore! Meski, jalan-jalanku saat itu tidak mendapat foto. :(

Di sini, aku menyadari bahwa —sama halnya dengan menulis— jika ingin mendapat jepretan yang bagus, langkah awalnya adalah mulai memotret. Dan, bahkan saat itu, aku tidak mengeluarkan kameraku. :(

Btw, menurut kalian, lebih ngga ramah lingkungan yang mana? Kantong plastik atau (kantong) kertas?

Cerpen: Terowongan Underpass

Posted in cerpen dengan kaitan (tags) , on 2 September 08 by Sitti Rasuna Wibawa

Cerpen keduaku tahun ajaran ini (Cerpen pertama klik ini). Iseng-iseng buat cerpen surealis tapi setting-nya di tokoh orang agak dewasa-an dikit. Kalo ngga punya kerjaan, bolehlah, baca cerpenku. Komen dan kritiknya ya. ;)

…………………

Terowongan Underpass

Di distrik gedung-gedung bisnis. Di sana, gedung dengan gedung dihubungkan dengan terowongan underpass atau terowongan bawah tanah.

Siang itu, Maris Niles, seorang wanita pegawai di perusahaan multinasional yang bertempat di Tetramaple Building, masih saja melamun seusai meeting-nya dengan direksi perusahaannya.

“Oh my God!” Maris kaget akan kelupaannya janjian makan siang dengan Dorothy, teman sekantornya. Dorothy sedang berada di Mahogany Place, gedung yang satu distrik dengan kantornya. Mereka berjanjian jam 12.10 dan kini jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Untungnya, Plaza Argentum, tempat mereka akan makan bersama, terletak persis di sebelah Tetramaple Building.

“Siang,” sapa Domenico, pekerja bagian IT, pada Maris, ketika lift membuka.

“Siang, Dommy-ku,” balas Maris plus senyum simpul. Domenico keluar dan Maris masuk ke elevator. Sendirian. Tampang Maris seperti orang linglung. Tak tahu kenapa.

“Ting,” bunyi lift. Sampai juga ia di lantai UG yang terdapat food court dan terowongan underpass menuju Plaza Argentum.

“Tok… Tok… Tok…” suara pelan stiletto Maris melangkah di terowongan itu. Tak seperti biasa, terowongannya sepi.

Tiba-tiba, zzzuuuppp… badannya seperti tertarik magnet, dan…

“He?” dia kaget. Kini dia berada di stasiun subway. Dia melihat sebuah iklan produk susu dan bertahun 1975!

“Tidak, tidak!” Maris pun panik.

Dengan kepanikannya, Maris pun mencari jalan keluar dari stasiun subway. Kemudian dia melihat lalu lintas yang tidak terlalu semrawut dengan kendaraan-kendaraan kuno. Gaya orang-orangnya pun masih kuno.

“Aku pernah lihat ini!” kata si Maris berbicara sendiri, “Ya, ya, aku lihat ini di situs Domenico di netpal,” lanjutnya. Domenico, teman kerjanya, adalah pengoleksi foto-foto kuno. Dia sering meng-upload-nya ke netpal, sebuah situs pertemanan cyber.

“Ini kan jamannya Grease! Aku bahkan belum lahir saat ini,” pikirnya. Dia sempat berpikir untuk melihat orang tuanya pada zaman itu, tapi setelah dia pikir-pikir lagi, orangtuanya ‘kan tidak tinggal di negara itu.

“Nona, sepertinya sedang sendirian. Tersesat atau… ? sapa bapak tua pengendara kereta kuda untuk turis.

“Iya, saya tersesat, tak tahu harus ke mana,” jawab Maris bingung. Mau menceritakan yang sebenarnya takut disangka gila.

Maris lari masuk kembali ke stasiun subway. Ternyata tak juga membawanya kembali ke terowongan underpass  Tetramaple Building – Plaza Argentum. Tanpa pikir panjang, daripada dia yang tak bisa kembali ke masa depan, lebih baik dia tinggal di masa lalu. Maris lari kembali ke luar stasiun subway. Sais kereta kuda tadi masih ada di sana.

“Kau sepertinya sedang kebingungan. Bagaimana kalau kau ke rumahku?” tanya si sais.

“Baiklah,” jawab Maris dengan mantap.

Kemudian, sampailah di rumah si sais. Rumahnya besar bergaya Latin (seperti di film Frida) dan berhalaman luas. Di belakangnya terdapat kebun bunga yang sangat lapang.

“Pak, rumahmu indah, besar, mengidentifikasikan kalau Bapak itu orang kaya. Kenapa jadi sais kuda turis? Tak takut tersaingi taksi?” tiba-tiba Maris bertanya penasaran.

“Ya, saya memang orang kaya. Tapi, kebun di belakang yang mengerjakan adalah pekerja saya. Saya hanya duduk, tiduran, tak ada aktivitas. Akhirnya saya punya ide untuk menjadi sais kereta kuda turis menggunakan kuda kesayangan saya.”

“Oh…” Maris tersenyum.

Berbulan-bulan, Maris tinggal di sana. Ia pun ikut bekerja di usaha floris si Bapak Sais itu. Sampai suatu ketika, Maris dilamar pegawai sais itu yang bernama Azka. Umurnya, dalam hitungan sebenarnya, selisih 31 tahun. Dalam hitungan umur, Maris lebih tua dua tahun dibanding Azka.

Bapak Sais pun menyetujui pernikahan mereka, bahkan mereka diberi tempat tinggal di dekat rumahnya. Setelah sebelas bulan menikah, mereka pun dikaruniai seorang anak. Perempuan. Cantik. Mungil.

Orang-orang kebun sangat senang menyambut kelahiran anak mereka. Anak itu diberi nama Dorothy.

“Azka, aku ingin pergi ke kota dengan Pak Chiquito, jaga Dorothy ya!”

“Tentu,” Azka meringis.

Lalu, Maris dan Bapak Sais, Pak Chiquito pun telah sampai ke kota. Rencananya, mereka akan berbelanja kebutuhan si bayi dan kebutuhan lainnya. Namun, Maris tiba-tiba melihat stasiun subway itu. Maris berjalan menuju ke sana. Dan, zzzuuuppp… badannya seperti tertarik magnet.

“Bangun, bangun, Maris,” teriak Dorothy.

Maris masih setengah sadar, celingak-celinguk.

“Kau kutunggu, tapi kau tak datang, untung Mahogany Place tidak jauh dari sini. Jadi, aku tidak capai jalan ke sini.”

“Aduh, maaf,” jawab Maris yang akhirnya full terbangun dari tidurnya.

“Kau habis dimarahi direktur, hingga kau tertidur di ruang meeting begini?”

“Ngga. Hmmm… Dorothy, siapa nama ayah dan ibumu?”

“Kenapa bertanya seperti tu? Ayahku, Azka Gianni, ibuku, hey, ibuke bernama Maris, sama seperti denganmu. Sayang, aku belum pernah melihatnya, dia tiba-tiba hilang di kota ketika dia dan kakekku, Chiquito, bukan kakekku sih, akan berbelanja di kota.”

“Dorothy, sini bentar deh!” suara cepat Domenico.

“Ya! Tunggu,” jawab Dorothy.

“HE?!” Maris bingung.

 

 

……………..

 

 

 

 

Ngga mutu sih… tapi ya, biarin. :D

 

 

 

 

 

 

Puisi: Kenangan Senja

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 30 Agustus 08 by Sitti Rasuna Wibawa

Puisi ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas dari guru Bahasa Indonesia-ku. Dibuat dengan tergesa-gesa, ditambah ke-tidakbisa-an dalam menulis, inilah hasilnya…

Bentar.

Sebelum akhirnya menulis puisi ini, aku telah membuat puisi:

1. Puisi dengan judul ‘Ehem. Ehem’ yang dengan bait pertama hanya berisi ‘Ehem. Ehem’ dan bercerita tentang seseorang yang sedang memikirkan apa tujuan teman-temannya yang berdehem kepadanya hingga akhirnya dia tidak peduli sama sekali.

2. Puisi yang menceritakan satu waktu jam pelajaran, yang membosankan, mengejek suara si guru yang seperti nyanyian nina bobo, gitu deh. Tapi ngga jadi ah.

3. Dan akhirnya yang ini, menceritakan seseorang yang kedua kalinya ke sebuah pantai dan akhirnya menyadari bahwa yang menemaninya pergi ke sana sebelumnya. sudah tidak ada lagi.

………………..

KENANGAN SENJA 

 

Duduk,

di pantai berpasir yang laiknya merica,

melihat tebing memecah ombak,

melihat hamparan pasir yang terbentang luas,

melihat indah birunya laut,

menikmati suara deruan gelombangnya.

 

Kemudian,

ketika mulai senja,

menengadah melihat terbenamnya matahari,

dan refleksinya di bentangan air laut,

menembus cakrawala,

dan terpotong horison pemisah langit dan laut.

 

Seketika itu,

rol-rol episode kenanganku dengannya,

serasa diputar kembali di depan mataku.

 

 

Masih belajar menulis. Monggo komen dan kritik serta saran.